Makalah Penyakit dan Terapi Islam

BAB I
PENDAHULUAN


Latar Belakang
Nabi menjelaskan bahwa ada dua macam penyakit sesuai dengan keadaan manusia yang terdiri dari tubuh jasad dan tubuh rohani. Untuk obat rohaniah adalah membaca AL Qur’an dan untuk sakit fisik adalah materi, diantaranya adalah madu.Dalam salah satu hadis riwayat Wailah bin Al Asqa’ disebutkan bahwa ketika seorang sahabat mengeluh sakit kerongkongan kepada rasulullah, maka beliau bersabda : “Bacalah Al-Qur’an dan minumlah madu, karena membaca Al-Qur’an merupakan obat untuk penyakit yang berada di dalam dada dan madu adalah obat untuk tiap penyakit”
Abu Darda’ berkata, bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnyqa Allah menurunkan penyakit serta obat dan diadakan-Nya bagi tiap penyakit obatnya, maka berobatlahkamu, tetapi janganlah kamu berobat dengan yang haram”. (HR. Abu Daud).
Dalam perspektif Islam, setiap penyakit merupakan cobaan yang diberikan oleh Sang Pencipta Allah SWT kepada hamba-Nya untuk menguji keimanannya. Sabda Rasulullah SAW yang artinya “Dan sesungguhnya bila Allah SWT mencintai suatu kaum, dicobanya dengan berbagai cobaan. Siapa yang ridha menerimanya, maka dia akan memperoleh keridhoan Allah. Dan barang siapa yang murka (tidak ridha) dia akan memperoleh kemurkaan Allah SWT” (H.R. Ibnu Majah dan At Turmudzi). Sakit juga dapat dipandang sebagai peringatan dari Allah SWT untuk mengingatkan segala dosa-dosa akibat perbuatan jahat yang dilakukannya selama hidupnya. Pada kondisi sakit, kebanyakan manusia baru mengingat dosa-dosa dari perbuatan jahatnya dimasa lalu. Dalam kondisi sakit itulah, kebanyakan manusia baru melakukan taubat dengan cara memohon ampunan kepada Allah SWT dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan jahatnya di kemudian hari.

Rumusan Masalah
Apa pengertian dari penyakit hati dan penyakit fisik ?
Bagaimana cara penyembuhan penyakit melalui terapi ?
Bagaimana cara pencegahan penyakit ?
Bagaimana cara penerapan terapi ala rasulullah ?













BAB II
PEMBAHASAN


Penyakit Hati dan Penyakit Fisik
1. Penyakit Maknawi (Hati)
a) Hakekat Penyakit Maknawi (Hati)
Adapaun penyakit hati ada dua macam: Penyakit syubhat yang disertai dengan keragu-raguan dan penyakit syahwat yang disertai dengan penyimpangan. Keduanya termaktub dalam Al Qur’an. 
Allah Ta’ala berfirman :

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta” (QS Al-Baqarah : 10)

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik)” (QS Al-Maidah : 52)
Dari ungkapan al Quran tentang jenis penyakit ini, sesungguhnya ini adalah penyakit hati orang-orang munafik atau penyakit kemunafikan. Yang dalam hal ini disebut dengan istilah penyakit maknawi. Penyakit munafik yang terkadang diungkapkan dengan nama keraguan-raguan atau kebimbangan. Ini merupakan penyakit dalam agama, penyakit keimanan, bukan penyakit yang menimpa fisik.







b) Indikasi Penyakit Hati
Allah Ta’ala berfirman :

”Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk (bersikap yang membuat orang berani untuk berbuat tidak baik) dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya (niat zina) dan ucapkanlah perkataan yang baik,”(QS Al-Ahzab :32)
Dari ungkapan al Quran diatas, maka sesungguhnya indikasi penyakit hati itu adalah suatu kecondongan untuk berbuat yang tidak dibenarkan agama atau norma/etika, diawali dengan keraguan (penyakit subhat) dan juga keinginan syahwat zina (penyakit syahwat)
2. Penyakit Fisik
Penyakit fisik (badan), yaitu penyakit yang diakibatkan karena sebagian organ tubuh tidak menjalankan fungsinya dengan sempurna, atau tidak berfungsi sama sekali. Bisa jadi karena masuknya kuman yang bermacam-macam ke dalam tubuh sehingga menjadikan organ tubuh rusak. Dengan begitu muncullah gejala-gejala penyakit. Semua penyakit anggota tubuh mempunyai gejala, sejarah,  sifat-sifat, dan komplikasi-komplikasi khusus sehingga kita bisa membedakan antara penyakit-penyakit fisik dan membuat spesifikasi dari masing-masing penyakit tersebut Inilah yang dimaksud dengan penyakit fisik (badan) sebagaimana yang disebutkan Rasulullah Saw. Di antara penyakit ini: lumpuh, penyakit lever, penyakit kuning, demam, dan lain sebagainya.
Allah Ta’ala berfirman :


“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) dirumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapakmu, dirumah ibu-ibumu, dirumah saudara- saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, dirumah saudara bapakmu yang laki-laki, dirumah saudara bapakmu yang perempuan, dirumah saudara ibumu yang laki-laki, dirumah saudara ibumu yang perempuan, dirumah yang kamu miliki kuncinya atau dirumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya” (QS An-Nuur : 61)
Penyakit disini (buta, pincang dan orang-orang sakit) yang menjadi halangan untuk ikut berperang. Dan tidak ada dosa baginya. 


Penyakit dan Terapinya
Berikut akan diurai pokok-pokok menyucikan jiwa. Amalan-amalan yang akan diurai ini merupakan “jurus pamungkas” oleh karena yang memiliki perhatian terhadap ini hanya sedikit orang saja, dan lebih sedikit lagi yang melakoninya, padahal kesucian jiwa itu yang akan mendekatkan dirinya pada Robbul ‘alamin dan yang menyelamatkannya dari rayuan syethan dan yang akan mengantarkannya meraih kebahagiaan hidup dunia-akhirat.
Mendiagnosa Penyakit Hati 
Hati ibarat panglima dan organ-organ yang lain ibarat bala tentara yang siap menerima dan menaati komando panglima. Bersihnya hati maka seluruh tubuh akan selamat. Kusamnya hati akan menyengsarakan hidup.
Ada tiga jenis hati : 
Qalbun Shahihun, 
Qalbun maridhun, 
Qalbun Mayyitun.
Ciri umum pengidap penyakit hati adalah tidak “doyan” makanan dalam daftar menu ibadah kepada Allah.
Hati yang sakit cepat sekali menyerap fitnah, sebagaimana tanah menyerap air. Hati yang demikian dua menjangkitkan penyakit, yaitu : pertama, penyakit “rabun” : melihat samar antara yang ma’ruf dan yang mungkar. Bila bertambah parah tidak lagi mampu membedakan : yang haq dapat dianggap bathil, yang bid’ah dipandang sunnah, kemaksiatan sebagai suatu kewajaran selayaknya kebaikan. Kedua, penyakit ego : nafsu menjadi hakim yang memutuskan perkara apa yang akan dilakukannya. Bila penyakit hati ini sudah demikian akut, maka ia akan meninggalkan semua petunjuk Allah dan teladan rasulullah.
Racun Hati :
Berlebihan dalam bicara
Tidak akan lurus keimanan seseorang sehingga lurus hatinya. Dan tidak akan lurus hati seseorang sehingga lurus lidahnya” (HR Ahmad dari Anas bin Malik).
“Janganlah banyak bicara yang selain berzikir kepada Allah. Sebab banyak bicara yang selain berzikir kepada Allah hanya akan menjadikan hati keras. Sedang orang yang paling jauh dari keridhaan Allah adalah orang yang berhati keras” (HR. Tirmidzi dari Ibnu Umar).
Berlebih-lebihan dalam memandang sesuatu.
Berlebih-lebihan dalam memandang sesuatu akan membuai manusia dengan angan-angan yang akan meracuni hati.
Pandangan mata direkam dalam hati, oleh karenanya “Pandangan adalah salah satu anak panah yang dimiliki iblis. Barangsiapa memejamkan pandangan matanya karena Allah maka Allah akan memberikan rasa manisnya iman di dalam hati hingga pada hari kiamat nanti ketika menghadap Allah ia akan selamat”.
Melepaskan pandangan dengan sedemikian bebas dapat melalaikan hati dan mengundang melakukan maksiat. “Katakanlah kepada orang-orang mukmin

“Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat” (an-Nur: 30). 
Berlebih-lebihan dalam makanan
Para tabib hati menasehati : “Sedikit makan akan melunakkan hati, menguatkan pemahaman, meredakan nafsu birahi dan melemahkan nafsu amarah”. 
Ada riwayat yang mengatakan “Sempitkanlah jalan yang biasa dilewati syetan dengan berpuasa”.
Rasulullah bersabda : ”Seorang anak manusia tidak akan melakukan suatu yang lebih buruk dalam mengisi penuh sebuah wadah, kecuali memenuhi isi perutnya. Cukup baginya beberapa suap saja untuk menguatkan tulang iganya. Jika memang tidak mungkin maka sertiga perutnya untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk bernafas” (HR Tirmidzi).
Berlebih-lebihan dalam Bergaul
“Seseorang itu menurut agama sahabat dekatnya, maka hendaklah kamu melihat dengan siapa ia bersahabat” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah).
“Janganlah kamu berteman melainkan orang mukmin dan janganlah makan makananmu melainkan orang-orang yang bertaqwa” (HR. Tirmidzi)
Jurus Menghidupkan Hati
Orang bijak mengatakan “Alangkah mengherankan keadaan ummat manusia, mereka meratapi jasad yang terbujur kaku tetapi tidak menangisi orang yang mati hatinya, padahal kematian hati lebih berat dan lebih riskan
Jurus menghidupkan hati, antara lain :
Zikrullah dan Tilawah Qur’an
Menurut ibnu taymiyah kebutuhan hati terhadap zikrullah merupakan kebutuhan vital beliau mengibaratkan kebutuhan hati terhadap zikir sama halnya dengan kebutuhan ikan terhadap air.
Zikrullah mengantarkan pada “bercinta dengan Allah” . 

“Ingatlah kamu kepada-KU niscaya Aku-pun akan selalu ingat kepadamu” (al-Baqarah : 152)
Sebaik-baik berzikir adalah membaca al-Qur’an. Al-Qur’an adalah obat mujarab bagi penyakit hati. 

“Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit yang berada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” (al-Isra’ : 82).
Rasulullah bersabda : “Barangsiapa hendak dicintai Allah maka perbanyaklah membaca al-Qur’an”.
Beristighfar Kepada Allah
Esensi igtighfar adalah memohon ampun atas segala kesalahan dan dosa yang telah diperbuat dengan tidak lagi mengulanginya kembali
Allah menyukai orang-orang yang yang meminta ampun, apalagi dikala sahur (baca Ali Imran : 17). Allah mengampuni setiap orang yang memohon ampun kepada-Nya :”Dan barang siapa mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya sendiri kemuadian dia memohon ampun kepada Allah niscaya ia akan mendapati Allah maha pengampun lagi maha penyayang” (an-Nisa’: 110).
Qiyamul Lail
Rasulullah menegaskan : “Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat lail”. Allah SWT mengangkat orang yang gemar melaksanakan shalat lail ketempat yang terpuji (al-Isra’: 79) yang berarti dapat menghapus keburukan hati. Orang yang ditiap-tiap malamnya tertidur pulas tidak sedikitpun dari malamnya terbangun mengerjakan shalat lail maka sesungguhnya ia telah “dikencingi syetan di kedua telinganya”. 
Berdo’a kepada Allah
Banyak ayat yang memerintahkan kepada seorang hamba untuk berdoa kepada ALLAH. Bahkan dalam surah al-mukmin ayat 60 Allah SWT menegaskan bahwa orang tidak mau berdoa kepadaNya adalah orang-orang yang sombong. Sombong adalah penyakit iblis yang paling akut. Karena kesombongan Iblis dikeluarkan dari syurga. Manusia yang tidak mau memohonkan hajatnya kepada Allah SWT yang maha menentukan segala sesuatu sesungguhnya lebih sombong daripada iblis, karena iblis saja masih menyampaikan harapannya kepada Allah agar diperpanjang umurnya dan diperkenankan merayu manusia agar menjadi temannya di neraka kelak
Orang yang berdoa kepada Allah memiliki optomisme yang tidak terbatas –ia tidak berputus asa--, karena keyakinannya kepada Maha Pemurahnya Allah. “Allah mengabulkan permohonan orang yang berdo’a bila ia memohon kepada-Ku” (al-Baqarah : 186). 
Bershalawat kepada Nabi
“Barang siapa membacakan shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan memberikan kepadanya shalawat (curahan rahmat) 10 kali lipat” (HR Muslim)
Rasulullah mengecap orang yang tidak mau bershalawat untuknya saat disebut namanya sebagai orang yang kikir (Nasa’I dan Tirmidzi).

Terapi ala Rasulullah
Kebiasaan Nabi Dalam Mengobati Orang Sakit
Mengikuti jejak Rosulullah Muhammad SAW, merupakan suatu keharusan bagi umat Islam. Termasuk mewarisi metodologi pengobatan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Pengobatan yang dilakukan Rosulullah menggunakan tiga cara, yaitu melalui do’a atau pengobatan dengan menggunakan wahyu-wahyu Ilahi yang lebih dikenal dengan istilah do’a-do’a ma-tsur yang datang dari Al Qur’an dan Sunnah Nabi SAW yang shahih. Kedua menggunakan obat-obat tradisional baik dari tanaman maupun hewan. Dan ketiga adalah menggunakan kombinasi dari kedua metode tersebut
Dalam sebuah hadist disebutkan “Hendaknya kalian menggunakan dua macam obat yaitu madu dan Al Qur’an”. Dari hadist tersebut madu merupakan lambang atau perwakilan dari obat-obat tradisional yang ada di bumi dan kita sebagai manusia yang diberikan akal sehat harus dapat menggali obat-obat tradisional yang banyak terdapat di muka bumi ini, bahkan letaknya tidak jauh dari sekitar kehidupan kita.
Semua penyakit dan Kesembuhan datangnya hanya semata-mata dari Allah SWT, sehingga obat apapun yang diberikan akan mampu menyembuhkan dengan seizin Allah SWT.
Sedangkan pengobatan dengan menggunakan Al Qur’an tidak lain adalah memanjatkan do’a dengan membaca ayat-ayat suci Al Qur’an yang merupakan wahyu Allah SWT dari langit yang diturunkan kepada Rosulullah SAW ke muka bumi.
Do’a mukjizat untuk kesembuhan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umat-Nya. Antara lain dari Hadist yang dikeluarkan oleh Dawud dan Ibnu Hibban, dari Abdullah bin Amr bin Ash r.a, ia berkata bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:
“Jika seseorang menengok orang sakit, hendaklah ia membaca: Ya Allah, sembuhkanlah hamba-Mu ini agar ia bisa melukai/ membunuh musuh-Mu atau bisa meraih ridha-Mu dengan menghadir i jenazah.’”
Bagi umat Islam tentu mengamalkan keduanya dalam pengobatan akan lebih baik. Mengingat semua penyakit dan kesembuhan datangnya hanya semata-mata dari Allah SWT, sehingga obat apapun yang diberikan akan mampu menyembuhkan dengan seizin Allah SWT. Bahkan Rosulullah SAW seringkali dalam pengobatan menggunakan kedua metode tersebut
Nabi Muhammad SAW sebagai Rosul yang diperintahkan oleh Allah untuk menyampaikan wahyu kepada umat-Nya tidak lepas perilakunya dari Al Qur’an karena beliau dijadikan sebagai suri tauladan yang baik untuk semua manusia.
Firman Allah : ” Sesungguhny apada diri Rosulullah ada terdapat suri tauladan yang baik untuk kamu, bagi orang-orangyang mengharapkan rahmat dan hari kemudian dan yang banyak memuja Allah SWT.” (Al Ahzab : 21)
Kata Imam Ali: “Sesungguhnya semua tingkah laku Nabi Muhammad SAW adalah Al Qur’an.”
Metoda Pengobatan Nabi Muhammad SAW
Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul yang diperintahkan oleh Allah untuk menyampaikan wahyu kepada umat-Nya tidak lepas tingkah lakunya dari Al Qur’an karena beliau dijadikan sebagai suri tauladan yang baik untuk semua manusia
Firman Allah : ”Sesungguhnya pada diri Rasul itu ada terdapat suri tauladan yang baik untuk kamu ,bagi orang-orang yang mengharapkan Rahmat dan hari kemudian dan yang banyak yang memuja Allah” ( Al Ahzab : 21).
Kata Imam Ali :”Sesungguhnya semua tingkah laku Nabi Muhammad SAW adalah Al Qur’an“.
a). Ruqyah
Ruqyah atau yang kita kenal dengan jampi-jampi merupakan salah satu cara pengobatan yang pernah diajarkan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammmad SAW Ketika Rasullulloh sakit maka datang Malaikat Jibril mendekati tubuh beliau yang sangat indah kemudian Jibril membacakan salah satu doa sambil ditiupkan ketubuh Nabi, seketika itu Beliau sembuh.inilah doanya ” BismIlahi arqiika minkulli syai-in yu’dziika minsyarri kulli nafsin au-ainiasadin Alloohu yasyfiika bismIlahi arqiika “. Ada tiga cara yang dilakukan Nabi dalam Ruqyah :


Nafats
Nafats yaitu membaca ayat Al Qur’an atau doa kemudian ditiupkan pada kedua telapak tangan kemudian diusapkan keseluruh badan pasien yang sakit. Dalam satu riwayat bahwasanya Nabi Muhammmad SAW apabila beliau sakit maka membaca “Al-muawwidzat” yaitu tiga surat Al Qur’an yang diawali dengan kata ”A’udzu” Yaitu : surat An Nas, Al Falaq dan Al Ikhlas kemudian ditiupkan pada dua telapak tangannya lalu diusapkan keseluruh badan.
Air liur yang ditempelkan pada tangan kanannya
Di riwayatkan oleh Bukhari-Muslim : Bahwasanya Nabi Muhammad SAW apabila ada manusia tergores kemudian luka ,maka beliau membaca doa kemudian air liurnya ditempelkan pada tangan kanannya, lalu diusapkan pada luka orang itu.Inilah doanya.”ALLAHUMMA ROBBINNAS ADZHABILBAS ISYFI ANTASY-SYAFII LAA SYIFA-A ILLA SYIFA-UKA LAA YUGODIRU SAQOMAN “.
Meletakkan tangan pada salah satu anggota badan.
Nabi Muhammad SAW pernah memerintahkan Utsman bin Abil Ash yang sedang sakit dengan sabdanya: ”Letakkanlah tanganmu pada anggota badan yang sakit kemudian bacalah “Basmalah 3x dan A’udzu bi-izzatillah waqudrotihi minsyarrima ajidu wa uhajiru 7x 
b). Doa Mukjizat
Banyak do’a-do’a untuk kesembuhan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umat-Nya.


c). Dengan Memakai Madu
Sebagaimana Ayat diatas bahwa madu Allah jadikan sebagai obat maka Rasululloh menggunakan madu untuk mengobati salah satu keluarga shahabat yang sedanga sakit .Dalam satu riwayat, ada shahabat datang kepada Nabi SAW memberitahukan anaknya sedang sakit, kemudian Nabi menyuruh orang itu meminumkan anaknya madu asli sambil membaca doa.
Metoda Pengobatan Para Rasul Sebelumnya
Nabi Isa. As
”Dan akan dijadikan-Nya sebagai Rasul untuk Bani Israil. Katanya : Aku ini datang kepadamu membawa tanda Mukjizat dari tuhanmu yaitu aku dapat membuat dari tanah liat ini rangka burung untuk kalian, kemudian aku tiup lalu menjadi seekor dengan izin Allah. Dan aku sanggup menyembuhkan orang buta, penyakit sopak dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah ” ( QS.Ali Imran : 49).
Nabi Isa mengobati penyakit buta dan sopak dengan cara diusap dengan tangan-Nya mata yang buta dan anggota tubuh yang terkena sopak dengan izin Allah melalui mukjizatnya maka seketika itu sembuh. 
Nabi Musa. As
Sebagai seorang Rasul yang sangat dalam ilmunya dan sanggup melumpuhkan Fira’un sang raja kafir yang sangat kuat dan menguasai sebagian besar alam, karena sangat kuasanya sampai -sampai dia mengaku dirinya tuhan dari segala makhluk.

BAB III
PENUTUP


Kesimpulan
Sungguh banyak ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang pengobatan. Karena bagaimanapun juga, selain sebagai pegangan hidup, al Qur’an diturunkan sebagai penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin. Beberapa ahli tafsir menyatakan bahwa nama lain al Qur’an adalah asy syifaa’ yang artinya secara bahasa adalah obat penyembuh.
Selain menerangkan pengobatan, al Qur’an juga menceritakan tentang keindahan alam semesta yang bisa kita jadikan sebagai sumber untuk membuat obat-obatan, subhanAllaah. Sangatlah jelas apa yang diterangkan al Qur’an, sehingga orang yang merenungi ayat-ayat diatas pastilah akan merasakan ketenangan jiwa ketika membaca al Qur’an. Selain itu, pegangan kita sebagai seorang muslim adalah al Hadits, banyak pula hadits Rasulullaah saw yang menerangan keutamaan membaca, menghafalkan, bahkan mempelajari al Qur’an.
Sungguh, masih banyak lagi dalil yang menerangkan bahwa berbagai penyakit bisa disembuhkan dengan membaca atau dibacakan ayat-ayat al Qur’an. Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat oleh penelitian DR. Ahmad Husain Ali Salim yang dipublikasikan oleh Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Ummu Darman Sudan. 





DAFTAR PUSTAKA

Salim, DR. Ahmad Husain Ali, Terapi al Quran untuk Penyakit Fisik dan Psikis Manusia. Penerbit Asta Buana Sejahtera, Jakarta. 2006.
Yafie, Ali, dalam sambutan tim pembaca ahli “Atlas Al Quran, terj” P.T. Kharisma Ilmu, Jakarta 2005.
Mahmud Muhammad, Mahir Hasan, “Mukjizat Kedokteran Nabi, terj” Jakarta : Qultum Media, Cet. I, 2007.
 Shihab, Quraish, “Tafsir Al Mishbah” Lentera Hati, Jakarta 2001.
Kamil Abdushahamad, Muhammad, “Mukjizat Ilmiah dalam al Quran, terj” P.T. Akbar, Jakarta 2004.
 Jawas, Yazid bin Abdul Qadir, Do’a & Wirid Mengobati Guna-Guna Dan Sihir Menurut Al-Qur’an Dan As-Sunnah, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Cetakan Keenam Dzulhijjah 1426H/Januari 2006M.

Komentar